Tata Cara Dan Bacaan Doa Niat Sholat Dhuha Terlengkap

Advertisement
Advertisement
Sholat Dhuha merupakan solat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha atau pada saat dimana matahari terbit di pagi hari hingga sekitar 7 hasta hingga menjelang sholat dzuhur atau sekitar jam 7 pagi hingga 10 siang. Namun penentuan waktu tergantung darimana Anda berada, karena posisi matahari pada setiap daerah kemungkinan berbeda.
Bacaan Doa Niat Sholat Dhuha
Sholat dhuha dilakukan sendiri dan tidak boleh berjamaah dan dilakukan pada waktu seperempat kedua dalam sehari atau sekitar jam 9 pagi. Sholat dhuha memiliki banyak keistimewaan yaitu diantaranya sebagai ibadah sunnah yang sering dikerjakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW dan sebaiknya sholat dhuha ini dalam mengerjakannya dengan rakaat genap. Dalam menjalankan sholat dhuha dilakukan dalam satuan dua rakaat dengan satu kali salam. Sedangkan jumlah maksimal sholat dhuha terdapat beberapa pendapat berbeda dari para ulama, ada yang mengatakan 8 rakaat ada yang mengatakan 12 rakaat dan ada juga yang berpendapat tidak ada batasan.

Terlepas dari beberapa pendapat yang berbeda, terdapat beberapa poin penjelasan yang dapat MediaOke.com rangkum dan mungkin dapat memberikan gambaran, diantaranya: Jumlah rakaat maksimal adalah delapan. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Dalil yang digunakan adalah berdasarkan hadist Umi Hani' radhiallaahu'anha bahwasannya Nabi Muhammad SAW memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau sholat 8 rakaat. (Hadist Bukhari, No.1176 dan Muslim, No.719).

Jumlah rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Hal ini berdasarkan pendapat Madzhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan pendapat lemah dalam Madzhab Syafi'i. Pendapat ini berdalil dari Anas radhiallahu'anhu "Barang siapa yang sholat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di surga". Namun, hadist ini termasuk hadist dhaif. Hadist ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Mundziri dalam Targhib wat Tarhib. Tirmidzi mengatakan, "Hadist ini gharib (asing), tidak kami ketahui kecuali jalur ini". Hadist ini didhaifkan sejumlah ahli hadist, diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhis Al-Khabir (2:20), dan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah (1:293).

Tidak ada batasan maksimal untuk sholat dhuha. Pendapat ini yang dikuatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi. Dalam kumpulan fatwanya tersebut, Suyuthi mengatakan "Tidak terdapat hadist yang membatasi sholat dhuha dengan rakaat tertentu, sedangkan pendapat sebagian ulama bahwasanya jumlah maksimal 12 rakaat adalah pendapat yang tidak memiliki sandaran" sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafidz Abul Fadl Ibn Hajar dan yang lainnya". Beliau juga membawakan perkataan Al-Hafidz Al-'Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi, "Saya tidak mengetahui seorangpun sahabat maupun tabi'in yang membatasi shalat dhuha dengan 12 rakaat.

Demikian pula, saya tidak mengetahui seorangpun ulama madzhab kami (syafi'iyah)- yang membatasi jumlah rakaat dhuha yang ada hanyalah pendapat yang disebutkan oleh Ar-Ruyani dan diikuti oleh Ar-Rafi'i dan ulama yang menukil perkataannya." Setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama Syafi'iyah, As-Suyuthy menyebutkan pendapat sebagian ulama malikiyah, yaitu Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam Syarh Al-Muwattha' Imam Malik. Beliau mengatakan, "Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan semampunya." (Al-Hawi lil fataawa, 1:66).

Kesimpulan:
Jika dilihat dari dalil tentang shalat dhuha yang dilakukan Nabi shalallahu'alaihi wa sallam jumlah rakaat maksimal yang pernah beliau lakukan adalah 12 rakaat. Hal ini ditegaskan oleh Al-'Iraqi dalam Syarh Sunan Tirmidzi dan Al-'Aini dalam Umdatul Qori Syarh Shahih Bukhari. Al-Hafidz Al 'Aini mengatakan, "Tidak adanya dalil - yang menyebutkan jumlah rakaat shalat dhuha lebih dari 12 rakaat, tidaklah menunjukkan terlarangnya untuk menambahinya." (Umdatul Qori, 11:423).

Setelah membawakan perselisihan tentang batasan maksimal shalat dhuha, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, "Pendapat yang benar adalah tidak ada batasan maksimal untuk jumlah rakaat shalat dhuha karena: Hadis Mu'adzah yang bertanya kepada Aisyah radhiallahu'anha, "Apakah Nabi shalallahu'alaihi wa sallam shalat dhuha?" Jawab Aisyah, "Ya, empat rakaat dan beliau tambahi sesuai kehendak Allah." (HR. Muslim, No.719). Misalnya ada orang shalat di waktu dhuha 40 rakaat maka semua ini bisa dikatakan termasuk shalat dhuha.

Adapun pembatasan delapan rakaat sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang fathu Mekah dari Umi Hani', maka dapat dibantah dengan dua alasan: pertama, sebagian besar ulama menganggap shalatnya Nabi shalallahu'alaihi wa sallam ketika fathu Mekah bukan shalat dhuha namun shalat sunah karena telah menaklukkan negeri kafir. Dan disunnahkan bagi pemimpin perang, setelah berhasil menaklukkan negri kafir untuk shalat 8 rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah. Kedua, jumlah rakaat yang disebutkan dalam hadist tidaklah menunjukkan tidak disyariatkannya melakukan tambahan, karena kejadian Nabi shalallahu'alaihi wa sallam sholat delapan rakaat adalah peristiwa kasuistik - kejadian yang sifatnya kebetulan" (As-Syarhul Mumthi' 'alaa Zadil Mustaqni' 2:54)

Adapun untuk melakukan sholat dhua terdapat niat yang diucapkan. Niat diucapkan bersamaan dengan Takbiratul ihram (mengangkat tangan), sedangkan gerakan selanjutnya sama seperti sholat pada umumnya. Adapun bacaan niat Sholat Dhuha tersebut adalah sebagai berikut:
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Terjemahan Niat Sholat Dhuha
USHALLI SUNNATADH-DHUHAA RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA
Arti Bacaan Niat Sholat Dhuha
AKU NIAT SHALAT SUNAT DHUHA DUA RAKAAT, KARENA ALLAH TA’ALA

Tata cara Sholat Dhuha:
Surah-surah yang baik dibaca pada saat sholat dhuha adalah:
  1. Surah Ad-Dhuha
  2. Surah Al-Waqi'ah
  3. Surah Asy-Syams
  4. Surah Al-Kafirun
  5. Surah Quraisy
  6. Surah Al-Ikhlas

Surah yang paling disunahkan ketika salat dhuha yaitu (a). Rakaat pertama disunahkan membaca Surah Asy-Syams (b). Rakaat kedua disunahkan membaca Surah Ad-Duha. (c). Untuk rakaat berikutnya: Setiap rakaat pertama disunahkan membaca Surah Al-Kafirun dan setiap rakaat kedua disunahkan membaca Surah Al-Ikhlas.

Setelah melakukan sholat dhuha terdapat bacaan yang harus dibaca, yaitu:
اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Do’a Shalat Dhuha Bahasa Indonesia
ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADAKASH SHALIHIN
Arti Do'a Sholat Dhuha
YA ALLAH, SESUNGGUHNYA WAKTU DHUHA ADALAH WAKTU DHUHA-MU, KEAGUNGAN ADALAH KEAGUNAN-MU, KEINDAHAN ADALAH KEINDAHAN-MU, KEKUATAN ADALAH KEKUATAN-MU, PENJAGAAN ADALAH PENJAGAAN-MU, YA ALLAH, APABILA REZEKIKU BERADA DI ATAS LANGIT MAKA TURUNKANLAH, APABILA BERADA DI DALAM BUMI MAKA KELUARKANLAH, APABILA SUKAR MUDAHKANLAH, APABILA HARAM SUCIKANLAH, APABILA JAUH DEKATKANLAH DENGAN KEBENARAN DHUHA-MU, KEKUASAAN-MU (WAHAI TUHANKU), DATANGKANLAH PADAKU APA YANG ENGKAU DATANGKAN KEPADA HAMBA-HAMBAMU YANG SOLEH

Keutamaan Bacaan Sholat Dhuha adalah:
  1. Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia (HR Muslim)
  2. Ghanimah (keuntungan) yang besar (Shahih al-Targhib: 666)
  3. Sebuah rumah di surga (Shahih al-Jami': 634)
  4. Memperoleh ganjaran di sore hari (Shahih al-Jami': 4339)
  5. Pahala Umrah (Shahih al-Jami': 6346)
  6. Ampunan Dosa (HR Tirmidzi).
Advertisement